Tersangka Kasus Suap Proyek BWS Sumatera VII Bengkulu di Tahan KPK

0
342

Jakarta, TerasNusantara.Com – Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK-RI), menahan tiga orang tersangka kasus suap terkait pengumpulan data atau pengumpulan bahan keterangan atas pelaksanaan proyek-proyek di Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Provinsi Bengkulu Tahun Anggaran 2015 dan 2016.

Ke-tiga orang tersangka yang ditahan oleh pihak Lembaga Anti Radiasi itu adalah Pejabat Pembuat Komitmen dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Apip Kusnandar, pensiunan BWS VII M Fauzi, dan Kepala Satuan Kerja BWS VII Edi Junaidi.

“Para tersangka tersebut ditahan selama 20 hari pertama terhitung sejak 2 September-22 September 2019,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis, Senin (2/9/2019). Ketiga tersangka itu ditahan di tiga lokasi rumah tahanan berbeda. Apip ditahan di Rutan Jakarta Timur, Fauzi ditahan di Rutan Guntur, sedangkan Edi ditahan di Rutan Jakarta Selatan.

Mereka ditahan setelah menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK. Mereka tak mengeluarkan pernyataan apapun saat digiring menuju mobil tahanan. Kasus yang melibatkan ketiga tersangka tersebut merupakan pengembangan dari kasus suap terhadap Kepala Seksi III Intelijen Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Parlin Purba.

“AK bersama-sama MF diduga telah memberikan hadiah atau janji kepasa Parlin Purba selaku Kasi Intel Kejati Bengkulu terkait pengumpulan data atau pengumpulan bahan keterangan atas pelaksanaan proyek-proyek di Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Tahun Anggaran 2015 dan 2016,”

Febri mengatakan, pada awal April dan Mei 2017, Kejati Bengkulu menerima informasi akan adanya dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi air di kawasan Sungai Air Nipis, Seginim, dan proyek rehabilitasi jaringan irigasi primer di Kecamatan Air Manjunto, Mukomuko.

“Agar informasi tersebut tidak ditindaklanjuti dan menghentikan kegiatan pulbaket, AK, MF, dan EJ menyerahkan uang sebesar Rp 150 juta kepada Parlin Purba dalam dua kali penyerahan,” kata dia. Dalam kasus tersebut, Parlin telah divonis lima tahun penjara dan denda Rp 200 juta. (RM2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here